Dari Anak Petani ke Kursi DPRD, Setahun Pengabdian Rahmat Dermawan Difilmkan dalam “Penyambung Lidah Rakyat”

img

(Rahmat Dermawan. Anggota Komisi II DPRD Kutai Kartanegara/pic:Tanty)

POSKOTAKALTIMNEWS,KUKAR: Perjalanan satu tahun mengemban amanah sebagai anggota DPRD tak ingin berlalu begitu saja bagi Rahmat Dermawan, yang merupakan anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) periode 2024-2029 dari fraksi PDI-P yang menjabat sebagai anggota Komisi II.

Pada komisi yang ia duduki,  ia fokus pada penguatan sektor pertanian dan peningkatan SDM masyarakat pesisir, serta sering menyoroti isu-isu lingkungan dan tanggung jawab sosial perusahaan.

Atas perjalanannya menjabat selama setahun Anggota Komisi II DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) ini memilih merangkainya menjadi sebuah kisah yang hidup, dekat, dan menyentuh masyarakat melalui film berjudul “Penyambung Lidah Rakyat”.

Diakuin Rahmat film tersebut lahir dari inisiatif para relawan dan tim Rahmat yang sejak awal aktif mendokumentasikan berbagai aktivitasnya selama menjabat. Mulai dari advokasi persoalan masyarakat, pengawalan program-program pemerintah, hingga upaya membantu warga agar dapat terfasilitasi dalam berbagai program pembangunan semuanya dirangkum menjadi cerita yang utuh.

“Teman-teman relawan dan tim saya menginisiasi pengumpulan dokumentasi perjalanan saya selama satu tahun menjabat sebagai anggota DPR. Dari situ muncul ide untuk menjadikannya sebuah film,” ujar Rahmat saat diwawancarai awak media Selasa (03/03/2026) usai buka bersama insan pers di Kantor DPC PDI-P Kukar.

Rahmat menjelaskan judul “Penyambung Lidah Rakyat” bukanlah sesuatu yang baru bagi Rahmat. Kalimat tersebut sudah ia gunakan sejak masa kampanye, sebagai bentuk komitmen untuk menjadi jembatan aspirasi masyarakat.

Seiring waktu, tagline itu justru lebih sering disebut kembali oleh masyarakat dan para pendukungnya. Dari situlah muncul gagasan untuk menjadikannya sebagai judul film sekaligus refleksi atas perjalanan politiknya.

Bagi Rahmat, film ini bukan sekadar dokumentasi kerja. Ia juga menjadi pengingat perjalanan panjang sebelum dirinya duduk di kursi legislatif sebuah fase kehidupan yang akan ia ceritakan secara terbuka kepada masyarakat, khususnya di tiga kecamatan daerah pemilihannya yakni Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa.

Istilah “Penyambung Lidah Rakyat” memiliki makna personal bagi Rahmat. Ia mengaku terinspirasi dari buku “Penyambung Lidah Rakyat Indonesial yang berkisah tentang Soekarno. Buku itu diberikan oleh mentor dan seniornya, Muhammad Samsun.

“Dari buku yang senior saya beri itu, saya baca berulang kali. Dari sana saya belajar bagaimana politik seharusnya dijalankan untuk rakyat,” tuturnya.

Rahmat menegaskan, dirinya bukan berasal dari keluarga politisi. Sang ibu adalah seorang pedagang, sementara ayahnya petani. Ia tumbuh dari keluarga sederhana, jauh dari lingkar kekuasaan.

“Saya lahir dari keluarga masyarakat biasa. Karena itu, ketika saya menyuarakan isu-isu di tengah masyarakat, banyak yang merasa aspirasinya bisa tersalurkan,” katanya.

Julukan “penyambung lidah rakyat” pun, menurutnya, bukan sekadar slogan, melainkan amanah.

Film “Penyambung Lidah Rakyat” kini telah rampung diproduksi, bahkan trailer-nya sudah tersedia. Usai Lebaran bulan Maret tahun 2026 ini, Rahmat bersama tim berencana menggelar nonton bareng di wilayah daerah pemilihannya, Samboja, Samboja Barat, Muara Jawa, dan Sangasanga.

“ Persiapan teknis kini tengah dimatangkan oleh para pemuda lokal di masing-masing wilayah yang antusias menggarap kegiatan tersebut. Tokoh masyarakat, kelompok warga, hingga pemuda setempat akan diundang untuk menyaksikan film bersama,” terang Rahmat.

“Ini bukan hanya tontonan, tapi ruang diskusi dan refleksi bersama,” tambahnya.

Lebih dari sekadar potret perjalanan pribadi, Rahmat menyebut film ini juga memuat pesan edukasi politik. Di dalamnya digambarkan bagaimana politik bekerja, bagaimana proses kebijakan berjalan, serta bagaimana seorang pejabat publik menjalankan amanah yang dititipkan masyarakat.

Dirinya pun berharap film ini dapat menjadi inspirasi, khususnya bagi pemuda pesisir, agar melihat politik dari sudut pandang yang lebih jernih.

“Politik itu penting. Kebijakan yang lahir hari ini adalah hasil dari pilihan politik sebelumnya. Baik atau buruknya kebijakan yang kita rasakan, semuanya berawal dari keputusan politik yang kita ambil,” tegasnya.

Ia mengingatkan agar politik tidak dipandang sebelah mata, apalagi ditentukan hanya karena euforia, faktor finansial, atau pragmatisme sesaat.

“Politik itu ibarat pisau. Tergantung siapa yang memegang dan bagaimana menggunakannya. Kalau dijalankan oleh orang baik, akan melahirkan kebijakan yang baik. Tapi kalau tidak bertanggung jawab, kebijakannya pun tidak akan berpihak pada rakyat.”

Melalui film “ Penyambung Lidah Rakyat”, Rahmat Dermawan ingin meninggalkan pesan sederhana namun mendalam.

“Saya ingin masyarakat mengerti bahwa politik sejatinya adalah tentang keberpihakan, tentang keberanian menyuarakan, dan tentang kesetiaan pada amanah rakyat,”tutup Rahmat. (tan)